Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Thamrin Dikenakan Denda Lima Pikul Gong

Palangka Raya (ANTARA)- Dalam putusan Sidang Adat Dayak digelar di Betang Nganderang Palangka Raya, guru besar Universitas Indonesia, Prof Dr Thamrin Amal Tomagola, didenda lima pikul atau 500 kilogram gong dan membayar biaya sidang sebesar Rp77,777 juta, terkait pernyataannya.

"Selain itu, Thamrin juga diperintahkan meminta maaf dihadapan majelis hakim adat dan masyarakat Dayak secara nasional serta mencabut pernyataan pada saat menjadi saksi ahli di persidangan video mesum Nazril Ilham, di PN Bandung," kata Ketua Majelis Hakim Adat, Drs Lewis KDR, di Palangka Raya, Sabtu.



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Sidang Adat Dayak Segera "Adili" Sosiolog UI

Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Agustin Teras Narang mengatakan, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof Dr Thamrin Amal Tomagola diharapkan datang ke Palangka Raya untuk mengikuti sidang adat Dayak di kota tersebut. "Kemarin perwakilan Aliansi Bhineka Tunggal Ika (ABTI) datang ke saya dan menyatakan Thamrin Amal Tomagola ingin bertemu. Namun pada pertemuan itu saya meminta yang datang ke Palangka Raya hanya utusan saja dulu," kata Agustin Teras Narang, di Palangka Raya, Jumat.

Menurutnya, dalam pertemuan dengan perwakilan ABTI itu, ia juga menyampaikan agar Thamrin meminta maaf kepada masyarakat adat Dayak dan bersedia mengikuti sidang adat Dayak di Palangka Raya. "Kesediaan Thamrin Amal Tomagola itu paling lambat diterima MADN tanggal 15 Januari 2011. Sebab apabila tidak ada jawaban, maka kami akan meneruskan perkara ini ke ranah hukum nasional, karena telah menyakiti masyarakat Dayak," ujarnya.



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Dayak Bukan Melayu


Tarian Dayak
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. 

Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. 1 Comment

Rumah Betang dan Nilai Kerukunan yang Mulai Tergantikan

Rumah Betang Lambang Kerukunan Masyarakat Dayak
Selain berupa penanda fisik berupa daun telinga yang panjang dan
banyaknya tato yang tergambar pada tubuh mereka, ada satu hal yang menjadi kekhasan warga Dayak : rumah Betang/rumah Panjang. Rumah panjang ini setara dengan nilai kerukunan yang diusung warga Dayak. 

Para orang tua Dayak senantiasa menekankan pentingnya kebudayaan Dayak yang berupa sikap mau berbagi dan hidup rukun dengan para anggota rumah panjang. 



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Sosiolog UI Bersedia Membayar Denda Adat Dayak

Sosiolog Universitas Indonesia, Thamrin Amal Tomagola, menyatakan permohonan maaf atas kesaksiannya di sidang Ariel Peterpan yang mengundang kontroversi warga Dayak. Ia pun bersedia membayar denda adat yang dikenakan padanya.

"Saya memohon maaf yang setulus-tulusnya dan bersedia membayar denda adat sesuai dengan kemampuan finansial saya sebagai dosen pegawai negeri di Universitas Indonesia," tulis Thamrin dalam surat elektronik atau email yang dikirimkan ke Media Indonesia, Selasa (11/1).



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Upacara Adat Nyabakng Oleh suku dayak Bakati Bengkayang

NyangahatnLepas dari kursi bis, perjalanan disambung dengan sepeda motor selama tiga puluh menit dari kota Kecamatan Sanggau Ledo, menyusuri jalan tanah campur batu bersusun menuju Kampung Segiring, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas itu, melintasi hamparan kebun lada, jagung dan karet disela-sela batas rumah penduduk. “Sumber hidup kami ini bergantung pada tiga jenis komoditi ini. Kalau karet sifatnya harian, jagung bulanan. Sedang lada dan padi, tahunan” (Sais, Wakil Ketua Badan Pemusyawaratan Desa, Desa Pisak, 2007).



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Ngayau (Berburu Kepala Manusia)

Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh.



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Nyobeng

Dahulu kala suku Dayak Bidayuh yang tinggal di wilayah Indonesia dan Malaysia kerap saling berperang. Tapi sekarang, lewat gawai Dayak Bidayuh serumpun Indonesia-Malaysia, dijunjung tinggi persaudaraan dalam kemasan ritual Nyobeng untuk perdamaian.
Hasil peperangan terutama ngayau disimpan warga Dayak Bidayuh Hli Buei di rumah balug. Tengkorak musuh itu dikumpulkan di dalam rumah adat yang letaknya di tengah kampung. Setiap tahunnya tengkorak hasil ngayau dimandikan dan dibersihkan. Ada penghormatan yang diberikan secara turun temurun meski tengkorak itu dulunya adalah musuh.
Ritual Nyobeng yang dilakukan setiap tahun merupakan tanda perdamaian, melingkupi perdamaian Dayak Bidayuh serumpun yang ada di Indonesia ataupun Malaysia.



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Dayak

SEJARAH SUKU DAYAK DIKALIMANTAN BARAT

Dayak atau Daya adalah suku-suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya terestrial (daratan, bukan budaya maritim). Sebutan ini adalah sebutan umum karena orang Daya terdiri dari beragam budaya dan bahasa. Di Malaysia Timur, dalam arti sempit, Dayak hanya mengacu kepada Dayak Darat sedangkan di Indonesia mengacu kepada suku Ngaju di Kalimantan Tengah, sedangkan arti yang luas suku Dayak terdiri atas 6 rumpun suku. Suku Bukit di Kalimantan Selatan dan Rumpun Iban diperkirakan merupakan suku Dayak yang menyeberang dari pulau Sumatera. Sedangkan suku Maloh di Kalimantan Barat perkirakan merupakan suku Dayak yang datang dari pulau Sulawesi. Penduduk Madagaskar menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Maanyan, salah satu bahasa Dayak (Bahasa Barito).



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Ritual Nyobeng; Memandikan Tengkorak Manusia Hasil Mengayau

RITUAL NYOBENG
 
Ritual Nyobeng; Memandikan Tengkorak Manusia Hasil Mengayau
Nyobeng dari berbagai referensi merupan sebuah ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang. Ini dilakukan oleh suku Dayak Bidayuh, salah satu sub-suku Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.     

MENGAYAU adalah memenggal kepala manusia, dan tengkoraknya diawetkan. Sekarang, tradisi mengayau sudah tak dilakukan lagi. Upacara ini cukup mengharukan, dan berlangsung selama tiga hari. Mulai tanggal 15 hingga 17 Juni. 



Baca selengkapnya »
Posted in by Zibanex Dayu Rara. No Comments

Rumah Adat Balug (Dayak Sebujit)


RUMAH Adat Balug adalah miniatur khas milik Suku Dayak Bidayuh salah satu sub suku dayak di Kalimantan Barat. Rumah adat ini terletak di Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Rumah adat ini juga digunakan untuk Upacara Nyobeng. Bahkan, miniatur rumah adat ini sudah diresmikan di Anjungan Kalbar, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Kendati demikian, untuk mencapainya masih terkendala kondisi infrastruktur yang masih serba terbatas dan belum banyak mendapatkan sentuhan-sentuhan pembangunan.

Upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan nasional tidak dapat dipisahkan dari keragaman adat budaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Demikian pula halnya dengan upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Kalimantan Barat. Keragaman budaya diKalimantan Barat khususnya suku dayak memberikan corak monopluralistik,
Baluk dipandang dari salah satu aspek kebudayaan yakni arsitektur tradisional tidaklah berlebihan jika dikatakan memiliki keunikan dan memberikan ciri serta identitas dari suatu suku yang mendukung suatu kebudayaan tertentu.
Baluk merupakan suatu bangunan yang bentuk, struktur, fungsi, ragam hias dan cara membuatnya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, serta dapat dimanfaatkan sebagai tempat tertentu untuk melaksanakan aktivitas kehidupan.
Baluk merupakan rumah adat suku dayak Bidayuh yang sangat berbeda bentuknya dari rumah adat suku-suku dayak lainnya khususnya yang berada di Kalimantan Barat dan umumya suku-suku dayak yang berada di Pulau Kalimantan.
Berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian. Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.
Memiliki atap yang berbentuk kerucut (Atap Payukng Samai) yang berarti melindungi seluruh masyarakat dengan empat buah jendela yang berhadapan dengan empat penjuru mata angin.
Baluk bagi suku dayak Bidayuh merupakan tempat pelaksanaan upacara adat Nyobeng dan juga tempat penyimpanan (tengkorak) kepala manusia yang merupakan peninggalan nenek moyang atau leluhur mereka.Tempat ini juga biasanya digunakan untuk menyelesaikan permasalahan adat apa bila terjadi sesuatu masalah di kalangan masyarakat desa Hlibeu.
 

Posted in by Zibanex Dayu Rara. 1 Comment